Laman

Jumat, 29 Juli 2011

Aku Bayangkan

Oleh: Bung Rafli*
“Aku bayangkan….” Dalam suatu forum diskusi. Duduk diantara kami, orang-orang hebat mahasiswa kampus x, yang beberapa waktu lalu namanya diabadikan dalam sebuah buku. Ada yang pintar olimpiade. Ada yang juara di berbagai kompetisi. Ada yang aktivis. Ada yang penulis. Ada yang businessman. Pun, ada berpuluh orang lagi yang menjadi tren mahasiswa inspiratif.

Oh iya, ditambah hadir pula kawan-kawan mahasiswa yang sempat mengharumkan institut x dengan berbagai karyanya yang sudah bersaing di kancah nasional maupun internasional.
Kami tidak sekedar berkumpul, cangkruk dan ngopi bareng+merokok. Tapi lebih dari itu. Forum ini menjadi penting karena pesertanya merupakan orang-orang besar. Maka, kami juga mendiskusikan masalah besar. Membicarakan tentang perubahan besar ke depan.
Topik diawali dengan tema pem-bicaraan: “Apa yang sudah kita perbuat?” Dengan mudah dan tanpa perlu berpikir panjang, satu persatu dari kami menjelaskan apa yang sudah dilakukan. Tentu hal ini bukanlah pekerjaan yang sulit. Karena masing-masing dari kami memiliki pengalaman pribadi yang mem-banggakan.
Dimulai dari kisah tim yang beberapa waktu lalu karyanya bersaing di kancah internasional dan mampu menyabet beberapa penghargaan. Ternyata hal senada banyak juga dilontarkan oleh tim lain. Baik itu berupa karya rekayasa mesin, produk ,mekanik baru, dsb.
Tidak hanya sampai di situ. Yang baru sampai tingkat nasional pun mema-merkan hasil kerja kerasnya yang meraih juara pertama dalam kompetisi mekanik nasional. Yang juara olimpiade tak mau kalah. Ia bercerita tentang bagaimana jerih payahnya dari awal hingga kondisinya saat ini, hingga mampu menjuarai beberapa ajang olimpiade.
Sebelum ia menjadi yang pertama di olimpiade serupa, ia terus ikuti setiap tahunnya sampai menjadi juara. Sungguh kerja keras yang luar biasa.
Sedang mahasiswa yang sukses mem-bangun kerajaan bisnis melontarkan spekulasi khusus tentang peluang usaha yang bisa digarap oleh mahasiswa. Ia berpesan bahwa tidak ada kesuksesan yang diraih dengan instan. Semua harus berproses dari bawah. Dan, kesabaranlah kunci utama keberhasilan.
Nah, yang terakhir ini sungguh meng-harukan. Ia tak membanggakan dirinya sendiri. Tapi sebaliknya, ia sangat merasa bahagia ketika mendengar almamaternya berhasil meraih Juara Umum II Pekan prestasI Mahasiswa NASional. Dan untuk tahun berikutnya memiliki target sebagai juara umum I. Harapan itu ternyata tak sekedar mimpi belaka, karena akhir-akhir ini bakal ada 295 calon peraih prestasi selanjutnya.
Wuih, tanpa kusadari, ternyata sudah banyak yang dilakukan oleh kampusku tercinta ini. Itu semua tidak lepas dari jerih payah mereka. Beberapa mahasiswa yang mau mengorbankan pikiran, tenaga, dan sakunya untuk meraih semua prestasi.
Diskusi berlangsung hangat dan gayeng. Kami saling tukar informasi, inspirasi, dan cerita. Hingga ada seseorang yang menceletuk bertanya, “Nah, kalau kamu, sudah berbuat apa?” tanyanya lepas sambil mengarahkan jari telunjuknya ke arahku.
Dengan gagap kujawab: “A…aaaaku belum berbuat apapun. Tapi aku suka berpikir kritis. Aku hanya bertanya-tanya. Setelah semua prestasi di atas. Setelah semua kebanggaan berhasil kita raih. Setelah itu apa…..?”
“Sedang di kampung terdekat Institut x, tata kehidupan masyarakatnya masih jauh dari kata layak. Lantas apa yang bisa kita perbuat sebagai mahasiswa berprestasi?” “Sampai tulisan ini selesai pun, aku masih membayangkan…”
*R Arif Firdaus Lazuardi-Mahasiswa Matematika ITS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mohon dicantumkan nama ya..kalo mau ngasih komentar..trims